phone: +60 13-456 7365
Hisyam Shamsudin SU Persatuan

Biografi Laksamana Cheng Ho





Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao, berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.


Dalam Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) tak terdapat banyak keterangan yang menyinggung tentang asal-usul Cheng Ho. Cuma disebutkan bahwa dia berasal dari Provinsi Yunnan, dikenal sebagai kasim (abdi) San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian biasa diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen.


Saat Ma He berumur 12 tahun, Yunnan yang dikuasai Dinasti Yuan direbut oleh Dinasti Ming. Para pemuda ditawan, bahkan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Tak terkecuali Cheng Ho yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana Beiping (kini Beijing).


Di depan Zhu Di, kasim San Bao berhasil menunjukkan kehebatan dan keberaniannya. Misalnya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yunwen (Dinasti Ming). Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini tampak begitu gagah melibas lawan-lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut tahta kaisar.


Ketika kaisar mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuhan Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri. Kaisar sempat kaget sekaligus terharu mendengar permintaan yang tergolong nekad itu. Bagaimana tidak, amanah itu harus dilakukan dengan mengarungi samudera. Namun karena yang hendak menjalani adalah orang yang dikenal berani, kaisar oke saja.

Berangkatlah armada Tiongkok di bawah komando Cheng Ho (1405). Terlebih dahulu rombongan besar itu menunaikan shalat di sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mampu mencapai wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Jawa). Tahun 1407-1409 berangkat lagi dalam ekspedisi kedua. Ekspedisi ketiga dilakukan 1409-1411. Ketiga ekspedisi tersebut menjangkau India dan Srilanka. Tahun 1413-1415 kembali melaksanakan ekspedisi, kali ini mencapai Aden, Teluk Persia, dan Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima (1417-1419) dan keenam (1421-1422). Ekspedisi terakhir (1431-1433) berhasil mencapai Laut Merah.


Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri Tiongkok, Hang Li Po (atau Hang Liu), dikirim oleh kaisar Tiongkok untuk menikahi Raja Malaka (Sultan Mansur Shah).

Pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi (berkuasa tahun 1424-1425, memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan. Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).

Kapal yang ditumpangi Cheng Ho disebut 'kapal pusaka' merupakan kapal terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton.



Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal serta pelayaran modern di masa kini. Desainnya bagus, tahan terhadap serangan badai, serta dilengkapi teknologi yang saat itu tergolong canggih seperti kompas magnetik.


Cheng Ho melakukan ekspedisi ke berbagai daerah di Asia dan Afrika, antara lain:



Vietnam
Taiwan
Malaka / bagian dari Malaysia
Sumatra / bagian dari Indonesia
Jawa / bagian dari Indonesia
Sri Lanka
India bagian Selatan
Persia
Teluk Persia
Arab
Laut Merah, ke utara hingga Mesir
Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik

Karena beragama Islam, para temannya mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin melakukan Haji ke Mekkah seperti yang telah dilakukan oleh almarhum ayahnya, tetapi para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya.


Armada ini terdiri dari 27.000 anak buah kapal dan 307 (armada) kapal laut. Terdiri dari kapal besar dan kecil, dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan buah. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 feet atau 120 meter dan lebar 160 feet atau 50 meter. Rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beragam termasuk binatang seperti sapi, ayam dan kambing yang kemudian dapat disembelih untuk para anak buah kapal selama di perjalanan. Selain itu, juga membawa begitu banyak bambu Tiongkok sebagai suku cadang rangka tiang kapal berikut juga tidak ketinggalan membawa kain Sutera untuk dijual.


Dalam ekspedisi ini, Cheng Ho membawa balik berbagai penghargaan dan utusan lebih dari 30 kerajaan - termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke Tiongkok untuk meminta maaf kepada kaisar Tiongkok. Pada saat pulang Cheng Ho membawa banyak barang-barang berharga diantaranya kulit dan getah pohon Kemenyan, batu permata (ruby, emerald dan lain-lain) bahkan beberapa orang Afrika, India dan Arab sebagai bukti perjalanannya. Selain itu juga membawa pulang beberapa binatang asli Afrika termasuk sepasang jerapah sebagai hadiah dari salah satu Raja Afrika, tetapi sayangnya satu jerapah mati dalam perjalanan pulang.


Majalah Life menempatkan Cheng Ho sebagai nomor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan.

Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat.

Semasa di India termasuk ke Kalkuta, para anak buah juga membawa seni beladiri lokal yang bernama Kallary Payatt yang mana setelah dikembangkan di negeri Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu.

Sebagai orang Hui (etnis di Cina yang identik dengan Muslim) Cheng Ho sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Kakeknya seorang haji. Ayahnya, Ma Hazhi, juga sudah menunaikan rukun Islam kelima itu. Menurut Hembing Wijayakusuma, nama hazhi dalam bahasa Mandarin memang mengacu pada kata 'haji'.


Bulan Ramadhan adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu Cheng Ho. Pada tanggal 7 Desember 1411 sesudah pelayarannya yang ke-3, pejabat di istana Beijing ini menyempatkan mudik ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, Cheng Ho memilih berpuasa di kampungnya yang senantiasa semarak. Dia tenggelam dalam kegiatan keagamaan sampai Idul Fitri tiba.


Setiap kali berlayar, banyak awak kapal beragama Islam yang turut serta. Sebelum melaut, mereka melaksanakan shalat jamaah. Beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha'ban, dan Pu Heri. "Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam," tulis HAMKA.


Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia, bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi), berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.


Kemakmuran masjid juga tak pernah dilupakan Cheng Ho. Tahun 1413 dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430 memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.

Beberapa sejarawan meyakini bahwa petualang sejati ini sudah menunaikan ibadah haji. Memang tak ada catatan sejarah yang membuktikan itu, tapi pelaksanaan haji kemungkinan dilakukan saat ekspedisi terakhir (1431-1433). Saat itu rombongannya memang singgah di Jeddah.


Selama hidupnya Cheng Ho memang sering mengutarakan hasrat untuk pergi haji sebagaimana kakek dan ayahnya. Obsesi ini bahkan terbawa sampai menjelang ajalnya. Sampai-sampai ia mengutus Ma Huan pergi ke Mekah agar melukiskan Ka'bah untuknya. Muslim pemberani ini meninggal pada tahun 1433 di Calicut (India), dalam pelayaran terakhirnya.

Cheng Ho dan Indonesia

Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.

Galeri Sejarah

PUTERI GUNUNG LEDANG

Nama beliau yang asal ialah Raden Puteri Mas Nyawa. Kemudian di gelar Raden Puteri Ratna Gumilah Sari atau Puteri Siti Jamilah. Bapanya ialah Sultan Ali Akabar Al Fatahillah bin Prabu Brawijaya. Ibu beliau ialah Raden Siti Murtassimah binti Raden Rahmat / Sunan Ampel. Beliau di lahir kan di Bintoro Demak pada tahun 1485 M. Di besarkan olih bapa nya yang pada masa itu belum menjadi Sultan Demak.Bintoro Demak pada asalnya adalah hadiah dari Bapa Raden Patah kepada Sunan Ampel untuk menubohkan Pesantren Pertama Pulau Jawa.

Pada tahun 1501 M ,Raden Puteri Jamilah di kawin kan dengan sepupunya Raden Abdul Qadir bin Raden Mohamad Yunus bin Sayyid Khalid Al Idrus. Radin Abdul Qadir adalah anak Adipati Jepara. Pada tahun 1478 M. Bintoro Demak melancar kan seranggan ke atas Majapahit dan Kerajaan HIndu ini runtoh. Maka berdirilah Bintoro Demak mengwakili Mjapahit yang akhirnya bergelar KERAJAAN ISLAM DEMAK. Sultan AlFatah sebenar nya tidak ada anak lelaki, yang ada anak lelaki ialah adek nya Raden Husin.Disebabkan Raden Husin rapat dengan Raden Fatah,anak anak lelaki Raden Husin di didik nya sebagai anak angkat.

Pada tahun 1506 M Raden Siti Jamilah datang ke Pulau Besar untuk menuntut ilmu ugama islam.Pada masa itu Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail menjadi Ketua Ulama di Pulau Besar. Maulana Ishaq dan Sayyid Thanauddin masih ada di Pulau itu.
Hasil perkhawinan dengan Raden Abdul Qader maka lahir lah Raden Abu Bakar (1502-1521 M ) dan Raden Abu Syahid (1503-1521 M).Kedua anak nya SYAHID di Pulau Besar pada tahun 1521 M.

Raden Abdul Qader menjadi Sultan Demak ke 2 pada tahun 1518 M. Dimasa ini Sultan ini telah ada 3 orang isteri iaitu
1.Raden Puteri Siti Jamilah..anaknya Raden Abu Bakar dan Raden Abu Syahid.
2.Raden Puteri Mas Ayu binti Sunan Gunong Jati…tiada anak.
3.Syarifah Siti Zubaidah binti Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail…melahirkan Raden Abdullah

Setelah Demak kalah dalam pertempuran dengan Melaka pada tahun 1521 M. Raden Puteri Jamilah menyepi ke Gunong Ledang.Beliau memang bersedeh kerana SUAMI DAN 2 ANAK TERCINTA nya SYAHID di Pulau Besar.Di samping itu PEREBUTAN TAHTA berlaku di Demak di antara Raden Tronggano dan Raden Kikin, menyebabkan Raden Kikin di bunoh !!!.Raden Yunus bin Raden Husin,adek bungsu Raden Tronggono lari ke Palembang dan menukar nama ke KIAI GEDE ING SURO. Pada tahun 1645 M Puteri Siti Jamilah atau PUTERI GUNONG LEDANG wafat dan di semadikan di samping Makam Suami nya.

Itu lah Sejarah ringkas yang saya tuliskan dan memang ada lagi kisah suka dan duka dalam riwayat hidup beliau…Cuma saya nak beritahu SIAPAKAH PUTERI GUNONG LEDANG YANG SEBENARNYA, DAN DARIMANA ASAL NYA,SIAPA BAPA DAN SIAPA GURU NYA !!!!. http://gunungledangmelaka.wordpress.com/

Makam di Pulau Besar Melaka



Besar terletak di Negeri Melaka Darul Azmi.Pulau Besar terletak di Daerah Melaka Tengah di Kawasan Umbai.Pulau ini sangat Senonim dengan nama "PULAU KERAMAT".Di antara Makam Keramah yang terdapat di Pulau Besar ialah :

1. Makam Sayyid Thanaudeen Al Azmatkhan bin Amir Sayyid Syah Jallaludin Al Azmatkhan Al Husaini..Beliau di kenali dengan nama Datuk Adi Putra dan Panglima Hitam .

2. Makam Maulana Sayyid Ishaq bin Maulana Sayyid Ibrahim Asmoro bin Maulana Sayyid Husin Jamadil Kubra Al Azmatkhan Al Husaini.Beliau ialah Bapa kepada Raden Joko Samudro atau SUNAN GIRI.Bapa Mentua kepada Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail Al Jailani Al Hasani.Di kenali dengan nama "WALI LANANG".

3. Makam Maulana Sayyid Patakan Ibrahim Ismail bin Sayyid Abdul Gahafar bin Maulana Sayyid Baraqat Nurul Alam bin Maulana Sayyid Husin Jamadil Kubra Al Azmatkhan Al Husaini.Beliau "PENTERJEMAH ", Kitab Darul Mazlum, pada zaman Sultan Mansor Syah, Melaka.Beliau di kenali juga dengan nama "SUNAN MULIA".Beliau ini ada lah MOYANG RAJA RAJA TEMENGGUNG MUAR !!!.

4. Makam Syarifah Siti Jamilah Al Azmatkhan Al Husaini binti Sultan Ali Akbar Al Fatahillah Al Azmatkhan Al Husaini.Beliau juga di kenali dengan nama "PUTERI GUNONG LEDANG" dan juga dengan nama "RADEN RATNA GUMILAH SARI AL AZMATKHAN AL HUSAINI".Beliau ialah ISTERI PERTAMA kepada AL SYAHID PATI UNUS AL MUKRAWI atau SULTAN ALI AKBAR AT TSANI, Sultan Demak ke 2.

5. Makam Syarifah Siti Fatimah binti Maulana Sayyid Ali Nurul Alam bin Maulana Sayyid Husin Jamadil Kubra Al Azmatkhan Al Husaini.Beliau isteri ke 2, kepada Maulana Sayyid Ishaq Al Azmatkhan Al Husaini.Dikenali juga dengan nama "PUTERI CEMPAKA BIRU".

Selain itu ada lagi Makam Ahli Keluarga Maulana Sayyid Ishaq Al Azmatkhan Al Husaini dan Maulana Sayyid Thanauden Al Azmatkhan Al Husaini di Pulau Besar, seperti :

1.Makam Syarifah Siti Maimunah Al Azmatkhan Al Husaini binti Maulana Sayyid Ishaq Al Azmatkhan Al Husaini.Beliau Isteri kepada Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail Al Jailani Al Hasani.Beliau melahirkan

2.Makam Syarifah Siti Musallamah binti Maulana Sayyid Ishaq AL Azmatkhan Al Husaini.Beliau isteri kepada Sunan Mulia dan IBU kepada Maulana Sayyid Fadillah Khan Al Pasai atau Laksamana Khoja Hasan atau Falatehan, Pembuka Kota Jayakarta/Jakarta.Beliau adalah NENEK MOYANG RAJA RAJA TEMENGGUNG MUAR.

3.Makam Syarifah Siti Rodziah binti Maulana Sayyid Ishaq Al Azmatkhan Al Husaini.Beliau isteri kepada Sayyid Ibrahim Al Jailani.

5. Makam Syarifah Inang Sih binti Maulana Sayyid Thanaudeen Al Azmatkhan Al Husaini.Juga di kenali dengan nama Dang Baru atau Dang Wangi.Beliau isteri kepada Laksamana Hang Jebat.Dan Ibu kepada Laksamana Hang Nadim.

6.Makam Tok Putih atau Sayyid Ahmad Salim atau Datuk Paduko Berhala bin Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail Al Jailani Al Hasani.

7.Makam Syarifah Siti Rodziah Binti Maulana Sayyid Ishaq Al Azmatkhan Al Husaini.Isteri kepada Sayyid Ibrahim Al Jailani Al Hasani.

8.MAKAM KENANGAN...Sayyid Ahmad Maulana Ismail atau Tuk Janggut Acheh......MAKAM SEBENAR NYA Di Lubuk Batu Segamat, Johor.

Sultan Muhammad al-Fateh

Sejarah Sultan Muhammad al-Fateh
PENGENALAN


Sultan Muhammad II yang lebih dikenali sebagai Sultan Muhammad al-Fateh (Pembuka Konstantinople) ialah salah seorang tokoh pejuang Islam dalam kalangan pemerintah selain beberapa orang lagi dalam kelompok yang sama seperti Sultan Salahuddin al-Ayyubi (Penyelamat Jerusalem) dan Sultan Saifuddin Muzaffar al-Qutuz (Penghancur Monggol). Dia menerajui umat Islam melalui Empayar Uthmaniyyah yang berpusat di Turkistan (Turki). Gelaran “Al-Fath” itu bersempena kejayaannya ‘membuka’ Konstantinople.

Imam Ahmad meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad saw pernah berkata: “Konstantinople akan ditakluki oleh tentera Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja, dan tenteranya adalah sebaik-baik tentera.”


Hadis ini telah membakar semangat sekian banyak tokoh dan tentera Islam untuk menakluki dan ‘membuka’ Konstantinople yang terkenal dengan keutuhan tembok berlapisnya. Dari semasa ke semasa ada saja perwira yang mahu diri mereka memenuhi maksud hadis Nabi itu. Sejak zaman para sahabat sehingga 800 tahun kemudiannya, pelbagai kempen ketenteraan dilakukan namun kesemuanya gagal menembusi tembok Konstantinople. Konstantinople yang berada dalam Empayar Byzantine ini sangat penting kerana ia merupakan laluan utama untuk ‘membuka’ Eropah keseluruhannya. Runtuh sahaja pintu Eropah, bermaksud mudahlah untuk sesiapa sahaja menerobos ke luar sana.

Tuhan menzahirkan kebenaran kata-kata Nabi Muhammad saw itu melalui Sultan Muhammad al-Fateh. Namun kita kena memahami satu perkara, iaitu Konstantinople dibuka sekurang-kurangnya dua kali. Sultan Muhammad al-Fateh ialah pembuka yang pertama manakala pembuka utamanya akan datang tidak lama lagi. Bahagian ini akan dibincangkan dengan lebih lanjut di bawah nanti.

Seorang sahabat Nabi bernama Abu Ayyub al-Ansari menemui kesyahidannya berhampiran tembok kota Konstantinople. Dia melancarkan serangan pada zaman Kekhalifahan Bani Umayyah. Dikatakan antara hujah Abu Ayyub ke sana ialah kerana dia pernah mendengar Rasulullah saw memberitahu bahawa akan ada seorang lelaki yang akan dikuburkan di sana. Dia berharap agar dialah orangnya. Selain itu, jika dia gagal membuka Konstantinople, dia berharap dapat mendengar derap kuda “sebaik-baik raja dan tentera” itu.


ZAMAN KECIL


Sultan Muhammad al-Fateh dilahirkan pada 30 Mac 1432 di sempadan Turki-Bulgaria. Bapanya Sultan Murad II (1401-1451) seorang yang soleh, handal dalam perang jihad dan mempunyai wawasan yang hebat. Dia memberikan didikan yang sempurna kepada anaknya sehingga Muhammad jadi seorang yang berketrampilan sejak kecil lagi.

Muhammad belajar dan menguasai pelbagai cabang ilmu seperti agama, politik, seni tempur dan beladiri, ilmu peperangan, tasauf, psikologi dan lain-lain. Dia berkebolehan dalam 7 bahasa iaitu bahasa Arab, Turki, Greek, Hebrew, Parsi, Latin dan Serbia. Hal ini menggambarkan kecerdasannya yang luar biasa.

Kekhalifahan Uthmaniyyah yang bermazhab Ahli Sunnah wal Jamaah aliran Asha’irah dan bermazhab Hanbali itu sangat mementingkan ilmu tasauf kesufian. Pihak istana mengamalkan Tariqat Naqshabadiyyah. Para khalifah mempunyai bilik suluk khas mereka. Peribadi yang banyak membentuk rohani Sultan Murad dan anaknya ini ialah seorang mursyid besar Tariqat Naqshabandiyyah iaitu Syeikh Shamsuddin al-Wali, seorang berketurunan Sayyidina Abu Bakar. Dia bertindak sebagai penasihat kepada Kerajaan Turki Uthmaniyyah ketika itu.
Ketika Muhammad masih dalam buaian, Syeikh Shamsuddin pernah berkata kepada Sultan Murad, bahawa bukan baginda yang akan menguasai Konstantinople tetapi anaknya yang ketika itu sedang berada dalam buaian itu.




ZAMAN REMAJA


Muhammad al-Fateh mula memangku jawatan sebagai pemerintah daulah Islam pada tahun 1444 ketika baru berusia 12 tahun. Ketika itu bapanya iaitu Sultan Murad ada urusan di luar kerajaan. Tugas ini dijalankannya dengan baik selama hampir 3 tahun. Pada tahun 1451, ketika usianya 19 tahun, barulah dia secara rasminya menjawat jawatan khalifah. Sultan Muhammad ialah khalifah Uthmaniyyah yang ke-7.

ZAMAN DEWASA


Sultan Muhammad al-Fateh memimpin sendiri 25 kali kempen ketenteraan sepanjang hidupnya. Walaupun dia ketua seluruh umat Islam pada zaman itu, namun dia seorang yang berjiwa rakyat. Dikatakan ketika tentera Islam membina Benteng Rumeli Hisari, Sultan Muhammad membuka serban dan bajunya lalu turut sama menjadi buruh binaan.

Sultan Muhammad sangat gemar mengenakan serban, begitu juga dengan tentera dan rakyat Turkistan ketika itu. Selain daripada mempraktikkan sunnah, serban besar mereka itu tidak lain ialah kain kafan mereka sendiri. Hal ini menunjukkan kecintaan mereka kepada syahid pada bila-bila masa dan tentunya kecintaan kepada sunnah. Sebab itu kesemua tentera Islam pada zaman itu mengenakan serban.

Walaupun Sultan Muhammad sudah dilantik sebagai khalifah, tetapi dia masih memerlukan tunjuk ajar bapanya, yang juga mahagurunya. Oleh itu, sungguhpun Sultan Murad sudah bersara dan mahu memberi tumpuan pada amal ibadah, Sultan Muhammad tetap mahu bapanya ke medan juang. Setelah Sultan Murad uzur, barulah dia dibiarkan berehat. Kata-kata Sultan Muhammad al-Fateh kepada bapanya setelah dia menjawat jawatan khalifah:

“Kalau ayahanda fikir ayahanda masih seorang khalifah, menjadi kewajipan ayahanda untuk turun ke medan perang. Tapi jika ayahanda memandang saya yang khalifah, maka saya perintahkan ayahanda untuk turun berjuang.”

Begitulah lebih kurang. Dengan kata-kata ini, Sultan Murad tidak dapat berhelah lagi. Memang benar, perjuangan tidak ada hari berhentinya.




MEMBUKA KONSTANTINOPLE


Sebelum melakukan kempen ketenteraan ke atas Konstantinople, Sultan Muhammad membuat persediaan rapi. Dia belajar daripada sejarah yang menyaksikan sekian banyak kegagalan tentera Islam terdahulu dalam menyerang kota tersebut. Dengan tembok kota berlapis empat, setinggi 25 kaki dan berparit air di hadapannya, kota ini sungguh kebal. Untuk itu perancangan dan persediaan yang luar biasa mesti dilakukan.

Antara langkah awal yang diambil oleh Sultan Muhammad al-Fateh ialah mengerahkan pembinaan meriam paling besar dan berkuasa pada zaman itu. Meriam ini mampu menembak sejauh satu batu dengan peluru antara 300-1600 kilogram setiap biji. Tentera musuh memang gentar akan teknologi ketenteraan umat Islam ini. Meriam ini hanya boleh melepaskan 15 tembakan setiap hari. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya untuk umat Islam menguasai teknologi.




Tentera Islam tiba di Konstantinople dengan jumlah lebih kurang 150,000 orang. Apabila mereka solat berjemaah beramai-ramai, gementar hati tentera musuh melihat betapa ramai, berdisiplin, harmoni, bersungguh-sungguh dan bersatu hatinya tentera Islam. Dari segi psikologi, moral tentera musuh sudah menjunam jatuh.
Selain tembok kebal, penghalang besar antara tentera Islam dengan Kota Konstantinople ialah Selat Bosphorus. Kapal-kapal tentera Islam tidak dapat membuat serangan kerana tentera Kristian sudah memasang rantai besi yang merentangi selat. Strategi ini berjaya menghalang kemaraan tentera Islam untuk tempoh yang agak lama juga.


Sultan Muhammad yang berusia 21 tahun dan tenteranya tiba di Konstantinople pada 19 April 1453. Mereka menghujani kota itu dengan tembakan meriam selama 48 hari, namun Konstantinople masih utuh berdiri. Pihak musuh diperteguhkan pula dengan bantuan daripada Pope berupa 5 buah armada perang. Oleh itu, mereka yakin tentera Islam akan kehabisan ikhtiar, kelesuan dan akhirnya akan pulang dengan tangan kosong.

Satu keajaiban berlaku. Pada suatu malam, Sultan Muhammad mengerahkan tenteranya menggerakkan kapal melalui jalan darat. Mereka menarik kapal-kapal itu lalu melabuhkannya di dalam selat. Hal ini memang satu idea yang sungguh luar biasa.

Esoknya, tentera Kristian terkejut besar melihat sebanyak 72 kapal perang tentera Islam sudah berada di dalam selat dan bersedia melancarkan serangan. Mereka berasa hairan kerana rantai perentang masih tidak terjejas, jadi bagaimana kapal-kapal tentera Islam boleh melompat masuk? Ketika inilah peperangan hebat berlaku.
Sudah berlalu 53 hari namun Konstantinople tetap gagah. Sultan Muhammad tidak boleh membiarkan keadaan ini berterusan. Dengan tekad muktamad dia memberikan ucapan : “Saya hendak mati! Sesiapa yang mahu mati, mari ikut saya!”

Ucapan ini benar-benar membakar semangat tentera Islam. Seorang pahlawan bernama Hasan Ulubate dan 30 orang perajurit menyerbu masuk ke kubu musuh. Mereka berjaya memacakkan bendera daulah Islam di dalam kubu. Bendera yang berkibar itu membuatkan tentera Islam ‘naik syeikh’. Mereka bertarung sambil mengharapkan syahid. Dengan izin Allah, akhirnya Konstantinople tunduk melutut ke bawah tentera Islam. Hasan Ulubate dan 30 orang perajuritnya berjaya mendapatkan syahid. Allahu Akbar!

Konstantinople ialah kubu utama Kerajaan Byzantine. Kerajaan Byzantine lemah lalu akhirnya hancur selepas kota ini jatuh ke tangan Sultan Muhammad al-Fateh. Sultan Muhammad menukar nama Konstantinople kepada Islambol, yang membawa maksud “Islam Keseluruhannya”. Nama Islambol diubah pula kepada “Istanbul” oleh seorang musuh Allah bernama Mustafa Kamal Attarturk, Bapa Pemodenan Turki. Gereja St Sophies ditukar oleh Sultan Muhammad menjadi masjid, iaitu Masjid Aya Sophia. Sekarang dijatuhkan maruahnya sebagai sekadar sebuah muzium.

Selepas itu Sultan Muhammad menyebarluaskan lagi agama tauhid ke Hungary, Bosnia, Serbia, Albani dan sekitarnya.


JUMAAT BERSEJARAH


Selepas berjaya menakluki Konstantinople, sampailah ketikanya untuk tentera Islam mengerjakan solat Jumaat yang pertama kalinya di sana. Timbul satu masalah, siapakah yang akan bertugas sebagai imam? Sultan Muhammad al-Fateh bertitah kepada tenteranya:

“Siapakah antara kamu yang pernah meninggal solat fardhu setelah baligh, sila duduk.”

Tidak ada seorang pun dalam ribuan perajurit itu yang duduk. Maksudnya mereka tidak pernah meninggalkan kewajipan solat fadhu. Beginilah salah satu ciri sebaik-baik tentera.

“Siapakah antara kamu yang pernah meninggalkan solat rawatib setelah baligh, sila duduk.”

Sebahagian daripada tenteranya duduk.

“Siapakah antara kamu yang pernah meninggalkan solat tajahud setelah baligh, sila duduk.”

Semua tenteranya duduk, kecuali Sultan Muhammad sendiri. Hal ini menunjukkan pemerintah besar ini tidak pernah meninggalkan solat fardhu, solat rawatib dan solat tahajjud sejak dia cukup umur. Alangkah hebatnya peribadi seorang pemimpin sebegini! Ada lagikah pemimpin umat Islam yang sebegini?

AKHIR HAYAT


Sultan Muhammad al-Fateh meninggal dunia pada 3 Mei 1481 di Hurkascayiri, Gebe. Ada pendapat mengatakan dia meninggal kerana menderita penyakit ghout. Ada pula yang mengatakan dia diracun.
Siapa yang meracunnya? Seorang Yahudi bernama Maesto Jakopa. Ada orang mengaitkan putera Sultan Muhammad sendiri dalam hal ini. Allahu a’lam.




KISAH POTRET SULTAN MUHAMMAD AL-FATEH


Potret ini memang masyhur. Siapakah pelukisnya?
Pelukisnya ialah seorang Itali bernama Genti le Bellini. Dia dihantar oleh Senat Venice ke Istanbul pada tahun 1479 untuk bertemu dengan Sultan Muhammad al-Fateh atas urusan hubungan diplomatik. Dialah yang melukis potret baginda.



PEMBUKA KONSTANTINOPLE SETERUSNYA


Hadis Nabi bercerita tentang kedatangan Yakjuj Makjuj. Kedatangan tentera Khazar, Monggol dan Rusia juga ternyata gerombolan Yakjuj Makjuj. Namun Yakjuj Makjuj yang utama akan muncul selepas kedatangan Imam Mahdi dan Nabi Isa al-Masih nanti.

Begitu juga dalam kes Pembuka Konstantinople. Sultan Muhammad al-Fateh dan tenteranya memang benar sebaik-baik raja dan tentera pada zaman mereka yang berjaya membuka Konstantinople, namun Pembuka Konstantinople yang utama akan tiba tidak lama lagi. Mereka juga sebaik-baik raja dan tentera, untuk penghujung akhir zaman ini.

Kita lihat apa yang dinukilkan oleh Syeikh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitabnya Al-Qaul al-Mukhtasor fi ‘Allamah al-Mahdiy al-Muntazor:

“Al-Mahdi akan memerangi Rom selama 3 hari. Pada hari ketiga itulah Rom runtuh. Kemudian menyerang Konstantinople. Ketika mereka membahagi-bahagikan emas di Konstantinople dengan memakai takaran perisi, tiba-tiba ada orang yang berteriak: “Sesungguhnya Dajjal telah menundukkan keluarga-keluarga kamu semua.”
“Al-Mahdi akan menundukkan Konstantinople dan Jabal ad-Dailam.” (Abu Nuaim)

Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya mereka menundukkan Konstantinople dan Rom dengan membunuh 40,000 jiwa……. Ketika mereka membahagi-bahagikan harta rampasan perang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan berita kedatangan Dajjal…”

Sabda Nabi:
“Peperangan yang terbesar ialah tertakluknya Konstantinople. Dan keluarnya Dajjal ialah selama 7 bulan.”

Hadis riwayat al-Hakim:
“Sesungguhnya pasukan yang menundukkan Konstantinople ialah pasukan Hijaz……. Kemudian mereka dikejutkan dengan orang meneriakkan tentang kedatangan Dajjal.”

“Tertakluknya Konstantinople ialah keluarnya Dajjal.”

“Ketika menundukkan Konstantinople, Al-Mahdi menancapkan benderanya untuk mengambil wudhuk dan mengerjakan solat Subuh.”

Cuba perhatikan, penaklukan Konstantinople dikaitkan dengan al-Mahdi dan pra-kezahiran Dajjal. Maksudnya pembukaan utama Konstantinople belum berlaku. Ia akan dibuka oleh sebaik-baik raja dan tentera iaitu Imam Mahdi dan pasukannya.

Anda mahu jadi salah seorang ahli pasukannya yang sebaik-baik tentera itu? Bandingkan amalan anda dengan amalan para perajurit Pembuka Konstantinople yang pertama iaitu tentera Sultan Muhammad al-Fateh. Tentunya kualiti tentera yang membuka akan membuka Konstantinople kali ini adalah lebih hebat daripada yang pertama. Layakkah anda?

Satu hal yang menarik, orang yang mengatakan Konstantinople akan jatuh ke tangan tentera Islam ialah Nabi Muhammad saw, Pembuka Konstantinople yang pertama ialah Sultan Muhammad manakala Pembuka Konstantinople yang utama ialah Muhammad bin Abdullah iaitu al-Mahdi. Ketiga-tiganya Muhammad.


Abu Zulfiqar Amsyari
(Alexanderwathern)
13 MEI 2010

Teuku Umar


Biografi Teuku Umar




Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899. Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.

Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.


Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.

Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1978 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.

Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.
Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.


2. Pemikiran

Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.


3. Karya

Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.


4. Penghargaan

Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.
(HS/tkh/3/8-07)

PERANAN ULAMA DALAM PERSILATAN


Koleksi artikel ALLAHYARHAM WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH
MAT Kilau seorang pahlawan agung yang berjuang menentang penjajahan Inggeris.



BARANGKALI perbicaraan yang menyentuh secara langsung tentang persilatan adalah masih sangat langka. Keterlibatan penulis dalam membicarakan perkara persilatan ini juga amat sedikit berbanding penulisan-penulisan selainnya.
Oleh itu, kelemahan-kelemahan dalam perbicaraan ini rasanya sangat banyak, apatah lagi dunia persilatan hanyalah penulis kenali sewaktu masih kanak-kanak dan ditinggalkan begitu lama, sejak tahun 1960-an.
Jenis-jenis silat memang banyak penulis ketahui, namun penulis bukanlah seorang pelajar mengenai bidang itu secara tekun tetapi hanyalah sebagai pemerhati saja. Di antara silat-silat yang penulis ketahui ialah Silat Pengian, Silat Kuntau, Silat Harimau, Silat Buton Kalidupa, Silat Bugis Bone, Silat Sinding, Silat Pukul Tujuh, Silat Minangkabau, Silat Cekak, Silat Gayung, Silat Gayung Patani, Silat Abjad dan Al-Mu'azat.
Peranan ulama dalam silat hanya dapat penulis tonjolkan kepada pemikiran Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan keterlibatan Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani dalam jihad fisabilillah.
Kedua-dua ulama besar yang sangat terkenal itu dipercayai menggunakan 'senjata' qalam untuk mengajar umat Melayu dna juga senjata pedang unutk perjuangan di medan jihad fi sabilillah demi mempertahankan kesucian Islam dan watan daripada penjajah.
Jika kita anggap ilmu silat adalah untuk mempertahankan diri peribadi, jihad pula adalah mempertahankan Islam dan tanah air.
Jadi kedua-dua ulama kita itu adalah lebih agung, kerana banyak jenis silat yang dikuasainya. Yang dimaksudkan di sini ialah:
*silat menggunakan qalam/pena,
*silat kalam/lidah,
*silat menggunakan siasah/politik, dan lain-lain termasuklah
*silat ketangkasan di medan juang yang sebahagiannya dijadikan sebagai satu cadang seni atau budaya.
Pelajaran silat dalam Kerajaan Pontianak
Tidaklah janggal pada kesempatan ini penulis mulakan petikan mengenai silat yang termaktub dalam sebuah manuskrip "Syair Kerajaan Pontianak".
Kerajaan Pontianak (Indonesia) memang bukan dalam Malaysia, tetapi adalah sebuah kerajaan Melayu yang didirikan oleh Syarif Abdur Rahman bin Habib Husein al-Qadri yang direstui dan dirasmikan oleh pahlawan Melayu-Bugis, Raja Haji bin Upu Daeng Celak.
Raja Haji pula adalah seorang pahlawan Melayu agung sesudah Hang Tuah, kerana hampir keseluruhan negeri-negeri Melayu pernah dikunjunginya. Akhir riwayat Raja Haji gugur sebagai syahid fi sabilillah di Teluk Ketapang, Melaka.
Syair Kerajaan Pontianak ditulis beberapa tahun setelah berdirinya Kerajaan Melayu-Islam Pontianak, dalam petikan tersebut juga jelas mencerminkan minat dan kesungguhan Sultan Syarif Abdur Rahman bin Habib Husein al-Qadri terhadap seni dan budaya silat. Untuk lebih jelas dan merupakan dokumen sejarah persilatan Melayu, Bab Silat dalam Syair Kerajaan Pontianak penulis sebutkan beberapa petikan awal darinya, iaitu:
Setelah sudah berperi-peri,
baginda berangkat lalu berdiri
Panggilkan Mat Raiyat suruh ke mari,
serta dengan Wan Bakari.
Wan Ahmad, Wan Bakar datanglah sudah,
kepada baginda tunduk menyembah
Dengan segeranya baginda bertitah,
Adalah sedikit hendak diperintah.
Baginda tersenyum seraya berkata,
Jikalau suka rasanya cita
Tuan-tuan yang muda ajarkan kita,
diajarkan silat bermain senjata.
Tuan ajarkan padan-padan,
boleh dilihat usulnya badan
Bagaimana di dalam contoh teladan,
yang mana patut main di medan.
*Tulisan Sheikh Daud Abdullah Al-Fathani mengenai jihad dalam Islam
Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani adalah ulama besar dunia Melayu yang terlibat langsung bersama-sama Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani dalam medan jihad melawan pencerobohan Siam di bumi Patani Darus Salam.
Tulisan-tulisan beliau mengenai hukum jihad telah penulis perkenalkan dalam penulisan-penulisan sebelum ini, di mana jelas menggambarkan bahawa Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani adalah seorang ulama pejuang Islam sebenar dan sejati serta bertanggungjawab terhadap ummah dan watan Melayu daripada segala macam bentuk penjajahan kuffar.
Sebagai tambahan, di sini penulis petik pula pandangan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani tentang jihad yang beliau tulis dalam kitab Bughyat at-Thullab.
Transliterasi selengkapnya ialah: "Dan setengah daripadanya, perang sabil bagi kuffar, yakni wajib bagi Imam itu pergi perang kepada negeri mereka itu, maka iaitu fardu kifayah dengan ijmak. Atau Naib Imam pergi dengan tentera kerana perang bagi mereka itu.
"Atau diperbaiki akan kota yang antaranya dan antara negeri mereka itu, serta diteguhkan dia, dan ditaruhkan senjatanya, dan orang yang menunggu padanya sekira-kira memadai melawan akan mereka itu. Maka hendaklah diperbuat akan salah suatu daripada keduanya maka gugurlah fardu kifayahnya. Ini jika tiada mereka itu datang kepada negeri kita.
"Maka jika datang ia kepada negeri Islam maka jadilah fardu ain atas tiap-tiap seorang daripada negeri yang ia masuk itu, hingga perempuan dan sahaya orang ... " (Bughyat at-Thullab, jilid 1, hlm. 95).
Ulasan dan pandangan, daripada kalimatnya "Maka jika datang ia kepada negeri Islam ... " dapat kita bandingkan peristiwa penjajahan bangsa Barat-Belanda dan Inggeris di dunia Melayu pada zaman Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dengan peristiwa Amerika, pengganas terbesar dunia, yang telah menjajah Afghanistan dan Iraq.
Sebagaimana telah disebutkan bahawa Belanda dan Inggeris telah menjajah dunia Melayu, perlu pula dinyatakan di sini bahawa Patani juga tidak terlepas daripada dijajah, bukan oleh bangsa Barat tetapi oleh Siam. Semua penjajah yang tersebut adalah bukan agama Islam kerana mereka telah menjajah negeri Islam.
Oleh itu, menurut Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani pada sambungan kalimat di atas bahawa "jadilah fardu ain atas tiap-tiap seorang daripada negeri yang ia masuk itu, hingga perempuan dan sahaya orang ..." berperang atau jihad terhadap mereka. Bangsa-bangsa yang telah menjajah dunia Melayu, adalah bukan beragama Islam.
Oleh itu fenomena yang berlaku sekarang, tuduhan umat Islam sebagai pengganas adalah tidak berasas sama sekali, kerana tidak terdapat dalam sejarah bahawa bangsa-bangsa yang beragama Islam datang menjadi penjajah di dunia Melayu.
Sebenarnya bangsa-bangsa penjajah itulah yang layak dilabelkan sebagai pengganas atau terrorist atau penzalim. Gelaran tersebut terdapat dua golongan yang sedang bermusuhan, yang pertama ialah pengganas yang sedang berkuasa (pemerintah) dan yang kedua ialah pengganas yang tidak berkuasa (rakyat).
Perjuangan jihad yang pernah dilakukan oleh ulama kita seperti Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan lain-lain tidak dapat disamakan dengan kedua-dua golongan pengganas yang tersebut di atas, kerana jihad Islam adalah cukup jelas berdasarkan perintah daripada Allah dan para Rasul-Nya. Siapa saja yang berjihad menurut perintah Allah dan Rasul-Nya adalah benar, tidak terdapat keraguan di dalamnya.
Oleh itu, wajib dipertahankan kebenaran dan kesuciannya daripada pentafsiran-pentafsiran yang tidak betul disusun demikian rapi oleh pihak-pihak tertentu yang telah merasa lazat makanan dan minuman segar tetapi beracun yang mereka peroleh dari musuh-musuh Islam.
Mengenai membuat persiapan sebagai benteng pertahanan dapat kita ketahui dari kalimat beliau, "Atau diperbaiki akan kota yang antaranya dan antara negeri mereka itu, serta diteguhkan dia ...".
Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani menyentuh pula tentang persiapan persenjataan dengan sambungan kalimatnya "dan ditaruhkan senjatanya" maksudnya bahawa dalam benteng pertahanan perlulah ada tersimpan persenjataan yang cukup dan siap digunakan apabila diperlukan.
Patriotik bangsa adalah sangat diperlukan, yang beliau gambarkan pada sambungan kalimatnya "dan orang yang menunggu padanya sekira-kira memadai melawan akan mereka itu". Kalimat ini dapat dihubungkaitkan dengan "ilmu silat" kerana orang Melayu yang sanggup melawan musuh pada zaman itu perlu mempunyai ketangkasan.
Ketangkasan dalam bentuk fizik adalah mempelajari ilmu silat. Dan tidak dapat dinafikan diperlukan "kekuatan dalaman" atau "mental" atau "rohani". Baik Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani mahu pun Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani juga pernah mengijazahkan wirid-wirid pertahanan diri untuk menghadapi musuh dalam peperangan.
Wirid pertahanan diri Sheikh Abdus Shamad Al-Falimbani
Untuk memantapkan keyakinan diri menghadapi jihad, dalam karyanya berjudul Mulhik fi Bayanil Fawa'id an-Nafi'ah fil Jihadi fi Sabilillah atau judul terjemahan oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani sendiri iaitu "Suatu Perhubungan Pada Menyatakan Akan Beberapa Faedah Di Dalam Perang Sabilillah", beliau membahagi dalam risalah tersebut kepada empat bahagian, iaitu:
lFaedah Yang Pertama Pada Menyatakan Ayat Quran Yang Jadi 'Azimat Yang Manfaat Di Dalam Perang Sabilillah, Dan Peliharaan Yang Menegahkan Daripada Kejahatan Orang Kafir.
lFaedah Yang Kedua Pada Menyatakan Doa Yang Manfaat Di Dalam Perang Sabilillah Dan Lainnya.
lFaedah Yang Ketiga Pada Menyatakan Doa Yang Membinasakan Bagi Segala Seteru, Dan Bagi Sejahtera Daripada Kejahatan Seteru.
lFaedah Yang Keempat Pada Menyatakan Doa Membinasakan Seteru, Dan Segala Kafir, Dan Bagi Sejahtera Daripada Kejahatan Mereka Itu.
Salah satu amalan Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani pernah diterima oleh pahlawan Mat Kilau. Mengenai ini termaktub dalam Kitab Mat Kilau, cetakan Utusan Melayu (Malaysia) Berhad, 1970, hlm. 23, iaitu "Ini doa diambil daripada Sheikh Abdus Shamad Palembang, siapa yang mengamalkan doa ini nescaya tidak mengenai padanya pedang, atau panah, atau segala rupa kejahatan dari seteru ... "Yang disebut dalam Kitab Mat Kilau itu memang termaktub dalam karya Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani tersebut yang beliau tempatkan pada Faedah Yang Kedua.
Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani telah menterjemahkan wirid untuk perang itu daripada bahasa Arab ke bahasa Melayu. Dalam empat buah karangan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani juga membicarakan wirid yang sama, di antaranya dalam kitab Mun-yat al-Mushalli. Selengkapnya lihat Mun-yat al-Mushalli yang telah penulis transliterasi (lihat terbitan Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, 1424 H/2003 M hlm. 96-98).
Walau bagaimanapun, tidak terdapat terjemahan wirid itu oleh Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani seperti yang dilakukan oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani. Perlu juga penulis sentuh di sini bahawa dalam terjemahan wirid Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani tersebut ada hubungkait dengan persilatan. Bahawa ilmu silat yang pernah penulis pelajari adalah melalui tiga jalan, iaitu:
*Belajar secara fizik di gelanggang.
*Belajar wirid-wirid yang boleh mendatang gerak dengan sendirinya.
*Mengabungkan pelajaran fizik dan wirid.
Pada Faedah Yang Keempat wirid Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani terdapat satu doa yang sama dengan yang diamalkan dalam Silat Al-Mu'azat. Walaupun dalam Silat Al-Mu'azat tidak mempelajari gerak fizik, tetapi apabila mengamalkan wirid, maka gerak fizik akan datang dengan sendirinya.
Silat Al-Mu'azat pernah dikembangkan di Johor oleh Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad dalam tahun 1970-an. Wirid yang diamalkan oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani, yang sama dengan amalan dalam Silat Al-Mu'azat itu, lebih lengkap ditulis oleh Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam kitab Ward az-Zawahir (lihat hlm. 189).
Kesimpulan dan penutup
Dari semua yang telah dibicarakan di atas penulis berpendapat bahawa:
lSeni dan budaya persilatan diajarkan dalam dua bentuk, iaitu dalam gerak fizik dan kerohanian.
lIlmu persilatan yang menggunakan wirid, hizib, doa, dan yang sejenis dengannya adalah berasal dari ajaran Islam yang benar. Sebaliknya tidak dapat dinafikan terdapat juga yang menggunakan mantera, jampi, serapah, dan yang sejenis dengannya. Mengenai ini sukar dijejaki sumber-sumber asal hingga ke atasnya. Oleh itu, ada yang boleh diamal dan digunakan. Sebaliknya ada pula yang mengandungi unsur khurafat yang menjerumuskan ke arah syirik yang bertentangan dengan akidah Islam.
lUlama-ulama Nusantara yang terlibat dalam jihad fi sabilillah mempunyai asas ilmu menggunakan senjata. Mereka memiliki ilmu ketahanan diri yang bersambung dari satu guru ke satu guru hingga sampai kepada pahlawan-pahlawan Islam terdahulu bahkan sumber amalan ada yang berasal dari Rasulullah SAW sendiri.
lUlama-ulama Nusantara yang melakukan jihad fi sabilillah demi untuk memperjuangkan Islam dan mempertahankan negeri-negeri Melayu dari dijajah oleh bangsa yang bukan Islam adalah wajib diteruskan secara bersambung dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.
Sekianlah yang dapat disampaikan pada ruangan kali ini, mudah-mudah kita dapat menghidupkan seni dan budaya yang dibenarkan syarak dan mengetepikan apa saja seni dan budaya yang bertentangan dengan syarak.
Mudah-mudahan hanya pemikiran ulama yang betul saja yang menjadi ikutan dan pemikiran yang tiada betul walau dari siapa pun datangnya supaya dihindari oleh-Nya.

TUAN TABAL





PENYEBAR THARIQAT AHMADIYAH PERTAMA DI NUSANTARA


Hubungan Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman al-Kalantani dengan Tuan Tabal yang diriwayatkan 
sebagai saudara ipar dalam Ruangan Agama, Utusan Malaysia, Isnin, 13 September 2004/28 Rejab 1425H, masih dirasakan perlu diberi keterangan lanjut. Oleh itu pada terbitan kali ini dipilih judul mengenai ulama yang berasal dari Tabal itu. Nama sebenarnya ialah Haji Abdus Shamad bin Muhammad Saleh Tabal al-Fathani al-Kalantani. Sebelum bergelar Tuan Tabal beliau juga pernah digelar Tuan Kutan. Oleh sebab semua tulisan yang meriwayatkan Tuan Tabal sebelum ini tidak pernah menyebut bahawa beliau adalah beripar dengan Syeikh Wan Ali Kalantani, maka sebelum meneruskan riwayat ini dirasakan perlu menulis perbandingan di bawah ini. Para penulis Kelantan selama ini menyebut bahawa isteri Tuan Tabal itu bernama Wan Tsum atau Wan Kaltsum anak Tok Semian. Maklumat daripada keluarga ini di Terengganu menyebut bahawa Tok Semian adalah nama gelar kepada Haji Abdur Rahman. Apabila kita teliti maklumat ini, maka salasilah yang diperoleh dari Terengganu ada benarnya, kerana ayah Syeikh Wan Ali Kutan dan Wan Kaltsum, adiknya memang bernama Abdur Rahman. Cuma ayah Abdur Rahman di sini bernama Abdul Ghafur, sedangkan ayah Abdur Rahman pada konteks isteri Tuan Tabal sebelum ini dikatakan bernama Lebai Muda. Kemungkinan Lebai Muda di sini adalah nama gelar juga bagi Abdur Ghafur pada konteks datuk kepada Syeikh Wan Ali Kutan dan saudaranya Wan Kaltsum tersebut. Penulis meyakini maklumat versi Terengganu ini, namun walau bagaimana pun penelitian tetap masih perlu dijalankan tanpa hentinya.


KELAHIRAN DAN PENDIDIKAN

Ada pertikaian pendapat tentang tahun kelahiran Tuan Tabal. Yang pertama mengatakan bahawa 
beliau lahir tahun 1816 Masihi, dan pendapat yang kedua menyebut tahun 1840 Masihi. Nik Abdul Aziz bin Haji Nik Hassan dalam buku Sejarah Perkembangan Ulama Kelantan menentukan bahawa Tuan Tabal lahir pada tahun 1840 Masihi, yang diikuti oleh Hamdan Hassan dalam bukunya Tarekat Ahmadiyah di Malaysia Suatu Analisa Fakta Secara Ilmiah (DBP, 1990, hlm.72). Disebabkan ada dua pendapat di atas, maka penulis masih ragu dengan kedua-dua tahun yang disebutkan itu. Kedua-dua tahun yang disebutkan penulis-penulis lain tidak menyebutkan tahun Arabiyahnya. Padahal pada zaman itu tidak ada ulama kita mencatatkan tahun kelahiran dan tahun wafat menggunakan tahun Masihi. Pemindahan dari tahun Arabiyah kepada tahun Masihi sering terjadi kekeliruan, sebagai contoh Nik Abdul Aziz dalam buku yang sama tersebut di atas (lihat hlm. 99) menyebut bahawa Syeikh Ahmad al-Fathani lahir tahun 1872, padahal hanya salah menyalinnya sahaja daripada tulisan penulis dalam majalah Dian bil. 49, 1972, yang penulis tulis tahun 1272 Hijrah bukan 1872 Masihi.Tulisan terawal Tuan Tabal ialah Munabbihul Ghafilin yang beliau selesaikan dalam tahun 1285 Hijrah yang jika dijadikan tahun Masihi lebih kurang tahun 1868 Masihi, bererti ketika itu Tuan Tabal baru berusia 28 tahun. Kitab yang tersebut itu walaupun nipis sahaja, namun mencorakkan falsafah mistik peringkat tinggi, yang menurut tradisi ulama dunia Melayu, ilmu tasawuf semacam itu tidak pernah ditulis oleh orang-orang yang berumur 28 tahun. Walaupun mereka menguasai ilmu tasawuf, namun mereka lebih suka menulis ilmu-ilmu yang bercorak zahir saja. Oleh sebab hal-hal yang tersebut di atas tahun 1840 Masihi itu perlu penyelidikan lebih lanjut.Setelah memperoleh ilmu di Patani, Tuan Tabal melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Oleh sebab ilmu Arabiyah beliau kurang kemas sewaktu di Patani, beliau diperintah oleh gurunya Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki memperdalam ilmu-ilmu Arabiyah itu daripada Syeikh Ahmad al-Fathani, walaupun Syeikh Ahmad al-Fathani sendiri jauh lebih muda daripada Tuan Tabal. Tuan Tabal lebih muda sedikit umurnya daripada Syeikh Muhammad Zain al-Fathani, ayah kepada Syeikh Ahmad al-Fathani.Mengenai Tuan Tabal belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani itu sangat masyhur diceritakan oleh guru-guru pondok. Juga telah dirakamkan berupa tulisan oleh beberapa orang di antaranya Muhammad Uthman El-Muhammady, Hamdan Hassan (dalam buku yang sama di atas) dan lain-lain. Namun demikian tulisan Hamdan Hassan mengenai kepulangan Tuan Tabal dari Mekah sebelum tahun 1860 Masihi (lihat hlm. 74) masih meragukan. Sebab, dalam tahun 1860 Masihi itu Syeikh Ahmad al-Fathani baru berumur 4 tahun, jadi dalam tahun berapakah Tuan Tabal belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani ? Sebab itu mahu tidak mahu kita terpaksa memilih salah satu daripada dua, iaitu Tuan Tabal benar pernah belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani jauh sesudah tahun 1860 Masihi, atau Tuan Tabal tidak pernah belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani kerana ketika beliau turun dari Mekah pada tahun 1860 Masihi, Syeikh al-Fathani masih kanak-kanak.

Penulis tetap masih berpegang kepada cerita yang mutawatir bahawa Tuan Tabal memang 
pernah belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani, namun yang perlu penelitian ialah tahun-tahun yang bersangkutan dengan Tuan Tabal kerana masih banyak yang diragui. Ada pun tahun-tahun yang melibatkan Syeikh Ahmad al-Fathani mulai lahir, aktiviti kepelbagaian dalam kehidupan dan tarikh wafat semuanya cukup jelas kerana dokumen mengenai beliau memang tercatat secara teratur. Dalam waktu yang sama Tuan Tabal, Syeikh Wan Ali Kutan dan Syeikh Ahmad al-Fathani menerima Thariqat Ahmadiyah daripada Sidi Syeikh Ibrahim ar-Rasyidi. Sidi Syeikh Ibrahim ar-Rasyidi adalah murid kepada Sidi Ahmad Idris, iaitu daripadanya dinisbahkan Thariqat Ahmadiyah yang tersebut. Oleh sebab Tuan Tabal pulang ke Kelantan sedangkan Syeikh Wan Ali Kutan dan Syeikh Ahmad al-Fathani tetap tinggal di Mekah, maka dipercayai Tuan Tabal adalah orang pertama menyebarkan thariqat tersebut di Kelantan dan sekitarnya, atau tempat-tempat lain di Nusantara.Sampai artikel ini ditulis memang belum diketahui orang lain yang lebih awal menyebarkan thariqat itu di dunia Melayu, bagaimanapun penyebaran yang dilakukan oleh Tuan Tabal tidaklah secara besar-besaran seperti yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad Sa'id Negeri Sembilan yang muncul agak terkebelakang sedikit daripada Tuan Tabal.



AKTIVITI


Maklumat mengenai Tuan Tabal, pengamal Thariqat Ahmadiyah yang tersebut dapat disemak daripada surat Raja Kelantan ibnu Sultan Muhammad kepada Syeikh Ahmad al-Fathani tarikh 14 Ramadan 1323 Hijrah, tertulis,''... orang yang dahulu beberapa banyak terima Thariqat Rasyidi, seperti Tuan Haji Abdus Shamad Tabal ...'' Dipercayai beliau telah mengajar thariqat yang tersebut terutama kepada anak-anak beliau. Bagaimanapun pengajaran Thariqat Ahmadiyah yang disebarkan oleh Tuan Tabal bukanlah merupakan pengajian asas. Pengajian yang asas dan pemantapan beliau mula mengajarnya di kampung Kutan, Kelantan, selanjutnya pindah ke Terengganu. Di antara muridnya di Terengganu ialah Bentara Guru Haji Wan Saleh, iaituDato' Bentara Guru Mufti Terengganu. Selanjutnya beliau mengajar pondok di kampung Tempoyak Tabal. Setelah berpindah ke Kota Bharu, Kelantan, pengajaran dan dakwah lebih dipergiatkan lagi. Beliau telah berhasil membangun sebuah surau tempat beribadat dan mendidik umat di Lorong Semian.



PENULISAN


Karya Tuan Tabal yang telah ditemui ialah:
1. Munabbihul Ghafilin, diselesaikan hari Sabtu, 2 Muharam 1285 Hijrah/ 1868 Masihi. Kandungannya membicarakan tasawuf, merupakan petikan daripada kitab Ihya Ulumid Din dan Masyariqul Anwar. Naskhah yang dicetak berasal daripada salinan anak beliau, Nik Abdullah pada hari Sabtu, 29 Syaaban 1320 Hijrah.
2. Jalalul Qulub bi Zikrillah, diselesaikan pada waktu Zuhur, hari Rabu, 18 Muharam 1287 Hijrah/1870 Masihi. Kandungannya juga mengenai tasawuf. Cetakan pertama oleh Majlis Ugama Islam Kelantan, 29 Zulhijjah 1254 Hijrah/ 1935 Masihi. Cetakan yang kedua, Mathba'ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, Kelantan. Diberi kata pendahuluan oleh Tuan Guru Haji Nik Daud bin Ahmad Jambu, di Bukit Rahmah Tanah Merah, Kelantan.
3. Kifayatul `Awam fima Yajibu `alaihim min Umuril Islam, diselesaikan 14 Safar 1295 Hijrah/1878 Masihi. Manuskrip kitab ini telah penulis miliki pada 3 Syawal 1411 Hijrah, dihadiahkan oleh salah seorang keturunan Tuan Guru Haji Ahmad bin Abdul Manan (ulama Kelantan murid Syeikh Ahmad al-Fathani). Manuskrip tersebut tidak lengkap dan merupakan salinan yang dilakukan pada akhir bulan Syawal 1321 Hijrah/1903 Masihi. Selain manuskrip penulis juga memiliki cetakan batu yang diperoleh di Senggora (1991). Tempat dan tarikh cetakan tiada tersebut dalam cetakan huruf batu tersebut.
4. Mun-yatu Ahlil Auwab fi Bayanit Taubah, oleh sebab saya tidak dapat merujuk kitab asli, maka tidak dapat memastikan yang mana sebenarnya judul yang betul, apakah seperti yang penulis tulis itu atau yang satu lagi tertulis ``... al-Awbah ...'' bukan `` ... Auwab ...''. Tertulis Auwab berdasarkan senarai tulisan tangan yang penulis peroleh daripada salah seorang keturunan Tuan Tabal, dalam senarai Nik Abdul Aziz juga sama demikian. Yang menulis al-Awbah ditulis oleh beberapa penulis termasuk Hamdan Hassan (lihat hlm. 238). Daripada senarai Hamdan Hassan diperoleh maklumat bahawa kitab ini pernah diterbitkan oleh Mustafa Press, Kota Bharu (tanpa tahun).
5. Bab Harap, dicetak oleh Mathba'ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, 1359 Hijrah/ 1940 Masihi.
6. Bidayatu Ta'limil `Awam fi Tarafi min Arkanil Islam, tanpa menyebut tarikh. Pernah dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1323 Hijrah/1906 Masihi. Cetakan kelima oleh Mathba'ah al-Kamaliyah, Kota Bharu.
7. Manhatul Qaribil Mujib wa Mughnir Raghibin fit Taqrib, diselesaikan pada Jumaat, 10 Zulhijjah 1300 Hijrah/1882 Masihi. Kandungan kitab ini ialah usuluddin, fikah dan tasawuf. Tetapi yang terpenting ialah fikah. Cetakan yang kedua oleh Mathba'ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, 1354 Hijrah/ 1935 Masihi. Kitab ini adalah karya Tuan Tabal yang paling tebal, 327 halaman menurut ukuran model kitab-kitab Melayu/Jawi.
8. Mun-yatul Muridin fi Ba'dhi Ausafi Saiyidil Mursalin, kitab ini tidak sempat diselesaikan kerana beliau meninggal dunia. Kitab ini pernah diterbitkan oleh Mathba'ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, 1345 Hijrah/1926 Masihi.
Beberapa orang anak dan keturunan Tuan Tabal yang menjadi ulama, di antaranya Mufti Haji Wan Muhammad, Mufti Haji Wan Musa dan lain-lain akan dibicarakan dalam siri-siri berikutnya.


sumber dari : http://ulama.blogspot.com/2005/03/tuan-tabal.html

Tokku Pulau Manis

SYEIKH ABDUL MALIK 

( TOK PULAU MANIS )

 



Syeikh Abdul Malik atau lebih dikenali Tok Pulau Manis dilahirkan di Kampung Pauh, Hulu Terengganu pada tahun 1060an/1650an, berketurunan Sharif Mohammad, yang berasal dari Baghdad. Menerima pendidikan agama diperingkat awal dari kaum keluarganya sendiri.

Syeikh Abdul Malik kemudiannya belajar di Aceh yang digelar “Serambi Mekah. Adalah dipercayai beliau telah menerima pendidikan secara langsung dari ulama besar Acheh, Syeikh Abdul Rauf Singkel (1030-1050/1620-1693) yang juga seorang tokoh yang berusaha membawa kepada pengukuhan terhadap aliran al-Sunnah wal Jamaah di alam Melayu. Beliau telah menyalin kitab Tafsir Baydawi yang dikarang dalam Bahasa Melayu oleh Syeikh Abdul Rauf Singkel. Selanjutnya beliau menyambung pengajian di Mekah sekitar tahun 1680, ketika beliau dipercayai berumur 30 tahun.

Selama hampir satu dekad di Mekah, beliau telah berguru dengan ulama-ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim al-Kurani (1025-1011/1616-1690), yang juga menjadi guru kepada Syeikh Abdul Rauf Singkel, bersahabat dengan pelajar-pelajar yang seangkatan dan seperjuangan dengannya seperti Tuan Haji Mohd Salleh bin Omar al-Semarani dari Jawa, Dato’ Syed Abdullah dari Terengganu, Fakeh Abdul Kadir Palimbang, Fakeh Abdul Rahman Patani, Fakeh Abdul Samad Kedah dan Haji Mohamad Siantan dan mengajar apabila terdapat peluang berbuat demikian. Semasa berada di Mekah dan juga Madinah, Syeikh Abdul Malik telah memberi penumpuan kepada keilmuan tiga serangkai, iaitu ilmu-ilmu Fikah, Usuluddin dan Tasawuf disamping Tafsir, Hadis dan ilmu-ilmu bantu seperti nahu, saraf dan sebagainya.

Beliau mendalami Fikah al-Shafie dengan berguru kepada Syeikh Ibrahim al-Kurani yang telah menggantikan Ahmad Qushashi yang menjadi pengajar kepada pengikut Imam Shafie di sana. Bidang Usuluddin yang diikutinya pula adalah berdasarkan pendekatan Imam al-Asya’ari yang menjadi pegangan umum pengikut ahl-al Sunnah wal Jamaah, manakala bidang Tasawuf yang diceburinya pula adalah berdasarkan etika ubudiyah kepada pengajian Tasawuf.

Syeikh Abdul Malik memilih Tarekat Shadhiliyah yang diasaskan oleh Abu al-Hasan al-Shadili (M. 656/1258) yang berasal dari Maghribi. Beliau berkenalan dengan tarekat ini menerusi pengajiannya iaitu melalui karangan pendukung utama dari kalangan generasi ketiga aliran sufi iaitu Ibnu ‘Athaillah (M. 709/1309). Tulisan yang menarik minatnya itu ialah Al-Hikam disamping al-Tanwir fi Isqat al-Tadbir, Lata’if al Minan dan Taj al-Arus.

Pengajaran al-Shadhili dan Ibnu ‘Athaillah dianggap lanjutan dari pendekatan Tasawuf al-Imam al-Ghazali dan kitab Ihya ‘Ulumuddin menjadi kitab penting bagi pengajaran bagi Imam Abu al-Hassan al-Shadhili dan pendokong-pendokongnya. Sebagai seorang yang kesedaran tentang peri pentingnya mendalami ilmu Syariat disamping Usuluddin sebagai asas mendalami ilmu Tasawuf, Syeikh Abdul Malik sendiri, sebelum pemergiannya ke Tanah Suci sudah pun mendalami beberapa bidang ilmu tersebut.

Ilmuan yang menjadi rujukannya berjumlah tidak kurang dari 143 orang, diantara yang terpenting di kalangan mereka itu ialah Ibn ‘Athaillah dan Abu al-Hasan al-Shadhili sendiri, Abu al-Abbas al-Mursi, Ibn Arabi, Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Abd Allah al-Suhrawardi, Abu Turab al-Khashabi, Abu Yazid al-Bistami, Abu Talib al-Makki, Abu Hamid al-Gahzali, Abu al-Qasim al-Nasr Abadhi, Abu Bakar al-Shibli, Abu Nasr al-Sarrj, Ahmad al-Rifa’i, Ahmad Ibn Hanbal, iBn Abbad, Hassan Basari, Junayd al Baghdadi, Ahmad Zarruq, Shal bin Abdullah, Sirri al-Suqti, al-Sha’rani, Abd al-Salam bin Mashish dan Ma’ruf al-Karkhi. Selain itu, beliau juga banyak merujuk kitab Fusus al-Hikam oleh Ibnu Arabi, Qut al-Qulub oleh Abu Talib al-Makki, karya-karya al-Ghazali seperti Ihya Ulumuddin dan Minhaj al-Abidin, al-Luma oleh Abu Nasar al-Sarraaj al-Tusi, alRi’ayat Li Huquq Allah dan Amal al-Qulub wa al-Jawarib oleh al-Harith al Mushasibi, Sharh terhadap Hikam berjudul Hikam Ibn ‘Athaillah atau Qurrat al-Ayn oleh Ahmad Zarruq dan Halat Ahl al Haqiqat Ma’a Allah oleh Ahmad al-Rifa’i.

Peranan Syeikh Abdul Malik sebagai pengajar di Mekah menyerupai penglibatan sebahagian penting ulama-ulama lain dari seluruh dunia yang menjadikan Tanah Suci sebagai pusat pendidikan. Pelajar-pelajar yang menjadi tumpuan beliau adalah mereka yang datang dari Tanah Jawi. Kedudukan Syeikh Abdul Malik di sini mempunyai persamaan dengan kedudukan ulama-ulama Jawi yang lain seperti Syeikh Daud bin Abdullah Fatani, Syeikh Abdul Samad Palimbang, Syeikh Mohamad Nawawi al-Bentani dan Syeikh Mohamad Khatib bi Abdul Latif Minangkabau. Sebagai guru yang amat meminati Tasawuf beraliran etika Ubudiyah yang diperolehi oleh Imam al-Ghazali, beliau juga memilih mengajar dengan menggunakan karangan-karangan yang menjadikan hasil karya Hujjatul Islam itu. Kitab-kitab yang dimaksudkan itu termasuklah Ihya Ulumuddin. Matan Hikam Ibnu Ata’ul-Lah yang dianggap sebagai lanjutan dari pendekatan etika Ubudiyyah al-Imam al-Ghazali juga ternyata mendapat perhatian istimewa dari Syeikh Abdul Malik. Minat Syeikh Abdul Malik terhadap Matan Hikam diperkukuhkan lagi oleh permintaan sahabat-sahabatnya seperti terjelas dalam Hikam melayunya :

(Dan) sanya telah meminta akan daku setengah saudaraku yang salik bahawa menterjemakan aku akan dia dengan bahasa Jawi supaya memberi manfaat dengan dia segala orang yang mubtadi, maka ku perkenankan atas yang demikina itu dengan sekira-kira yang difahamkan Allah Taala akan daku (dan) adalah au memanjangkan sedikit perkataannya kerana aku memasukkan perkataan sharahnya dengan sekadar kifayah bagi orang mubtadi mengetahui dia……?.

Karangan di atas menunjukkan bahawa sahabat-sahabatnya di Mekah telah memintanya mengarang, sesuatu yang mencerminkan martabat kedudukannya di kalangan kawan-kawannya. Dengan penulisan tersebut Hikam Melayu merupakan sebuah kitab Tasawuf terbesar dan terawal menurut aliran ahli Sunnah wal-Jamaah di dalam Bahasa Melayu.

Adalah dipercayai bahawa Syeikh Abdul Malik pulang ke tanah air sekitar pertengahan tahun 1960an ketika berusia lebih kurang 40 tahun. Kehadirannya di dalam masyarakat tempatan, yang diperkukuhkan oleh Hikam Melayunya serta pertalian dengan pembesar tempatan di Negeri Terengganu. Malah disebabkan oleh pertalian Terengganu dengan Johor, peranan Syeikh Abdul Malik menjadi lebih penting lagi dalam kontek perkembangan sosial semasa. Mengikut sumber-sumber yang boleh dipercayai beliau dikatakan bertanggungjawab membawa dan menabalkan Zainal Abidin I menjadi sultan pemerintah Negeri Terengganu (1725-1734) yang berlangsung di Tanjung Baru. Raja tersebut juga telah berkahwin dengan anak perempuan Syeikh Abdul Malik. Apabila Syeikh Abdul Malik berpindah dari Hulu Terengganu dan menetap di Pulau Manis baginda juga telah turut sama berpindah dan menetap tempat yang baru sebelum memilih tempat persemayam tetapnya di Kuala Terengganu.

Syeikh Abdul Malik menjadi peneraju program pendidikan agama di Terengganu, sama ada selaku ulama istana atau sebagai guru kepada orang ramai. Di istana, Syeikh Abdul Malik berdampingan bukan sahaja dengan Sultan Zainal Abidin I tetapi juga dengan pembesar-pembesar yang turut berguru dengannya. Di dalam upacara keagamaan, beliau diberi peranan mengetuai majlis-majlis tersebut. Dalam penglibatannya sebagai Syeikh al-Ulama dan Mufti beliau mengeluar fatwa-fatwa berhubung dengan pegangan keIslaman dan hukum hakam. Dengan berpandukan pengalaman pengajian di Jawa, Aceh dan Mekah, beliau telah menjadikan Pulau Manis sebagai tempat pengajaran dan ibadat yang didatangi oleh pelajar-pelajar dari jauh dan dekat. Adapun kitab beliau yang kedua terbesar selepas Hikam Melayu, iaitu Kitab Kifayah merupakan sebuah karya yang merangkumi Usuluddin dan Fekah.

Syeikh Abdul Malik atau Tok Pulau Manis meninggal dalam lingkungan usia 86 tahun iaitu pada tahun 1149H bersamaan 1736 sebagaimana yang terakam pada makamnya.





TOK PULAU MANIS ALIM TERENGGANU


TOKOH yang acap kali memperkenalkan pelbagai aspek ulama besar Terengganu, Syeikh Abdul Malik Terengganu yang digelar dengan Tok Pulau Manis ini ialah Shafie Abu Bakar.

Namun, tulisan ini penulis mulai dari penemuan sebuah salasilah yang penulis peroleh daripada salah seorang keturunan adik-beradik Syeikh Abdul Malik Terengganu.

Tertulis pada bahagian atas salasilah, “Bismillahir Rahmanir Rahim Syarif Muhammad, satu raja yang memerintah akan negeri Baghdad kerana mengambil ... (tak dapat dibaca) lalu pergi ke Mekah. Kemudian diturut orang akan dia. Maka lari ke Terengganu, lalu duduk di Ulu Pauh. Dan wafatlah ia di Pauh. Maka meninggalkan anak dua orang, satu Abdullah dan kedua Abdul Malik. Maka Abdul Malik itulah Datuk Pulau Manis yang keramat itu”.

Daripada salasilah di atas, ternyata terdapat kelainan dengan tulisan-tulisan sebelum ini, iaitu semua penulis termasuk penulis sendiri, menyebut bahawa nama ayah Syeikh Abdul Malik Terengganu ialah Abdullah. Ada pun dalam salasilah di atas, ayahnya ditulis Syarif Muhammad yang berasal dari Baghdad.

Nama Abdullah itu adalah adik-beradik Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis). Adik-beradiknya yang seorang lagi bernama Abdul Qahhar. Tetapi sebelum ini ada salah seorang keturunan ulama ini meriwayatkan kepada penulis bahawa datuk dan nenek kepada Syeikh Abdul Malik ialah Syarif Abdul Qahhar. Anak lelaki Syarif Abdul Qahhar itu bernama Abdullah, iaitulah ayah bagi Syeikh Abdul Malik.

Salasilah versi yang lain memberikan maklumat bahawa Syeikh Abdul Malik bin Abdullah bin Abdul Qahhar bin Saiyid Muhammad. Sangat sukar untuk mentahqiqkan riwayat yang bersimpang-siur seperti ini, tulisan-tulisan yang terdahulu masih belum dapat dimansuhkan sedang salasilah yang bertulis, yang baru diperoleh juga sukar ditolak.

Berdasarkan salasilah yang baru diperoleh, bahawa dari tiga orang adik beradik ulama yang berasal dari Baghdad itu, hanya Abdul Qahhar saja yang tidak tercatat meninggalkan anak dan zuriat. Abdullah iaitu adik beradik yang kedua, memperoleh seorang anak bernama Sulaih.

Sulaih menurunkan zuriat hingga kepada pemilik salasilah, iaitu Jamaluddin bin Yusuf Terengganu. Dicatat pada sudut kanan, “Pada tiap-tiap satu daripada keturunan Abdullah ini banyak lagi pecahan saudara dan anak-anaknya”.

Catatan dalam salasilah bahawa yang ramai meninggalkan zuriat ialah Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis), yang berpunca dari tiga orang anaknya.

Sebagaimana disebutkan bahawa yang paling banyak memperkenalkan Syeikh Abdul Malik ialah Shafie Abu Bakar, oleh itu dapat dirujuk tulisan-tulisannya. Dalam Pesaka II dengan judul Syeikh Abdul Malik Bin Abdullah dan Karangan-karangannya.

Dalam Pesaka IV, dengan judul Hikam Melayu (HM) di Dalam Perkembangan Tasawuf Kedudukan dan Penetapan Pengarangnya. Juga tulisan Shafie bin Abu Bakar dimuat dalam buku Ulama Terengganu Suatu Sorotan, dengan judul Tok Pulau Manis Dan Pengasasan Pendidikan Islam.

Penulis sendiri telah memperkenalkan ulama tersebut dalam Katalog Pameran Manuskrip Melayu terbitan Perpustakaan Negara Malaysia dalam rangka Sempena Persidangan Antarabangsa Tamadun Melayu kedua 15-20 Ogos 1989. Tulisan penulis pula dimuat dalam Jurnal Dewan Bahasa, Julai 1990.

Ismail Che Daud pula dalam majalah Pengasuh bilangan 509, Februari 1991 memunculkan judul Tok Pulau Manis (1650an - 1736 M) Penulis Syarah Hikam. Pengakuan Kitab Syarah Hikam Melayu sebagai karya Tok Pulau Manis Terengganu mulai diragukan pertama sekali dikemukakan oleh Abdur Razak Mahmud ditulis dalam majalah Pengasuh bilangan 511, April 1991 sebagai tanggapan terhadap tulisan lsmail Che Daud. Ia sekali gus menyentuh tulisan-tulisan Shafie bin Abu Bakar yang tersebut.

Dalam Seminar Warisan Kitab-Kitab Melayu Lama pada 28 Safar 1412/7 September 1991, anjuran Bahagian Hal Ehwal Islam Jabatan Perdana Menteri, pembentang kertas kerja Abdul Aziz bin Ismail sangat banyak menyebut nama Tok Pulau Manis dan Kitab Hikam Melayu, dan lain-lain sangat banyak untuk disebutkan. Oleh itu, beberapa perkara yang telah banyak dibicarakan, penulis sentuh serba ringkas saja. Bagaimanapun, beberapa penemuan baru dirasakan perlu diulas agak panjang terutama mengenai keturunannya yang menjadi ulama atau tokoh yang berpengaruh dalam masyarakat.


PENDIDIKAN

Tahun kehidupan Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis) Terengganu tercatat antara tahun 1089 H/1676 M-1149 H/1736 M, demikian tersurat di atas kubur beliau, yang menurut salah satu tulisan Misbaha. Tetapi penyelidikan terakhir memberikan maklumat bahawa beliau lahir lebih awal dari tahun yang tersebut itu, iaitu kira-kira 1650 M.

Setelah mendapat pendidikan di kampung sendiri dan dari beberapa ulama di Terengganu, beliau meneruskan pelajarannya ke Aceh. Di antara gurunya di Aceh ialah Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Dipercayai sewaktu belajar di Aceh bersahabat dengan beberapa orang yang akhirnya menjadi tokoh dan ulama besar. Mereka ialah Syeikh Yusuf Tajul Khalwati al-Mankatsi dari Bugis-Makasar, Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan dan Syeikh Burhanuddin Ulakkan dari Sumatera Barat dan ramai lagi.

Mereka telah menerima talqin baiah Tarekat Syathariyah daripada ulama Aceh yang terkenal itu. Mereka melanjutkan pelajaran ke Mekah dan Madinah. Sewaktu di Mekah bersahabat pula dengan Syeikh Abdus Syukur bin Abdul Karim Batani al-Fathani dan belajar kepada Syeikh Ibrahim al-Kurani.

Syeikh Ibrahim al-Kurani ini juga guru kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri.


KARYA-KARYA

Mengenai karya beliau semuanya dapat dirujuk kepada tulisan-tulisan Shafie bin Abu Bakar, kecuali kitab Syarah Hikam Melayu dalam penyelidikan terkini dimunculkan sebagai bukan karya Tok Pulau Manis oleh Abdur Razak Mahmud yang beliau tulis dalam majalah Pengasuh yang telah disebutkan.

Dalam tulisan terdahulu, penulis menyatakan kitab yang dipertikaikan itu termasuk dalam senarai. Ada dua kitab yang penulis bicarakan dalam Jurnal Dewan Bahasa, Julai 1990, yang sebuah lagi ialah Kitab Kifayah manuskrip salinan Tok Kelaba yang tersimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nombor kelas MS 517. Tok Kelaba cukup jelas menyebut kitab tersebut adalah karya Tok Pulau Manis. Akan tetapi ada sebuah manuskrip koleksi penulis yang ditemui di Kampung Kepala Bukit Senggora (Mei 1993) dengan judul Al-Kitabul Kifayah, selain judulnya sama juga kandungannya adalah sama, bahawa dinyatakan sebagai karya Imam Syafie (maksudnya bukan Imam Syafie imam mazhab) yang diselesaikan penulisannya pada hari Khamis, 2 Safar 1180 H/1766 M.

Ada pun salinan Tok Kelaba tidak tersebut tahun selesai menulisnya, hanya disebutkan tahun selesai penyalinan saja iaitu pada 13 Zulkaedah 1297 H/1879 M (kira-kira 117 tahun kemudian).

Ingin penulis sebutkan di sini bahawa penulis menemui sebuah manuskrip karya beliau di Patani (hadiah seorang Tuan Guru, Julai 1991). Manuskrip yang telah penulis miliki itu belum pernah disebut dalam semua tulisan sebelum ini. Risalah tersebut nipis saja, hanya enam halaman tetapi lengkap. Di akhir risalah tertulis, “Maka adalah yang memindahkan dan yang menjadikan segala perkataan ini semuanya fakir yang hina iaitu Haji Abdul Malik ibnu Abdullah al-Jawi ...”. Kandungan kitab ini ialah jawapan beliau atas beberapa pertanyaan yang bersangkutpaut dengan nikah kahwin.

Ada pun mengenai kitab Syarah Hikam Melayu, pada mulanya telah sepakat dikatakan sebagai karya Syeikh Abdul Malik Terengganu (Tok Pulau Manis). Kemudian dibantah oleh Abdur Razak Mahmud, mengenai ini telah penulis bahas dengan agak panjang dimuat dalam buku Penjelasan Nazham Syair Shufi Syeikh Ahmad Al-Fathani (terbitan pertama Khazanah Fathaniyah, September 1993).

Adapun penulis mempunyai pelbagai edisi cetakan Syarah Hikam Melayu, termasuk cetakan pertama yang ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani di bawah perkataan dalam bahasa Arab cetakan pertama, dinyatakan, “Inilah terapan yang pertama daripada kitab ini”.

Di bawahnya lagi dijelaskan, “Diterapkan dia dengan peterapan Miri pada negeri Mekah al-Mukarramah”. Cetakan pertama yang tersebut adalah tahun 1302 H. Ukuran cetakan 28.8 x 20.8 cm, tebal 208 halaman.

Pada akhir cetakan Syeikh Ahmad al-Fathani, mencatatkan, “Dengan Tolong Al-Malikul Wahhab. Telah sempurnalah menthaba’kan ini kitab yang mustathab, iaitu Syarah Hikam Ibni ‘Athaullah dengan bahasa Melayu. Dan adalah pada tharah kitab ini dahulu hamba sebutkan hal keadaannya nuqil daripada setengah manusia, bahawa kitab ini karangan bagi setengah daripada ulama Terengganu. Kemudian nyata bagi hamba, kemudian daripada periksakan aturan ibaratnya dan pilikkan (pelat) cakapannya, bahawasanya bukan ia bagi orang Terengganu. Maka ada pula orang yang mengkhabar bahawasanya ia karangan orang Aceh adanya. Dan adalah yang muqabalahkan dia atas sekira-kira barang yang ada pada asal naskhahnya al-faqir al-fani Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani musyarakan li anisihi al-fadhil Daud ibni almarhum Ismail al-Fathani.

Dan selesai men(ge)capkan dia pada pertengahan bulan Syawal sanah 1302 daripada hijrah Nabi kita ‘Alais Shalatu was Salam .... Oleh itu, pembahasan kitab Syarah Hikam Melayu dan lapan bait puisi Syeikh Ahmad al-Fathani yang terletak di bahagian depan semua cetakan kitab tersebut telah cukup jelas dalam buku Penjelasan Nazham Syair Shufi Syeikh Ahmad Al-Fathani, maka ditutup sampai di sini saja.

KETURUNAN

Syeikh Abdul Malik Terengganu memperoleh tiga orang anak iaitu: Imam Yusuf Kesuma, Badruddin dan Mik Tok Bungkuk. Ada pun Imam Yusuf Kesuma itu memperoleh anak dua orang, ialah: Abdur Rahman dan Ali. Sampai di sini salalsilah terputus, tidak terdapat sambungan keturunannya. Malahan salasilah Mik Tok Bungkuk terputus juga. Yang teramai memperoleh anak dan keturunan ialah anak Tok Pulau Manis yang kedua, iaitu Badruddin. Badruddin memperoleh lapan anak iaitu tujuh lelaki dan hanya seorang saja yang perempuan. Mereka ialah; Daud, Husein, Hasan, Muhammad, Musa, Isa, Maimunah dan Ya’qub.

Huraian ringkas salasilah sebagai yang berikut: Daud (No. 1) bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, memperoleh anak; Sulaiman, Fatimah, Usman, Badruddin, Husein, Umar, Abu Bakar, Idris dan Khatib Muhammad Shalih

Salasilah terputus kecuali Khatib Muhammad Shalih dikatakan memperoleh anak bernama Ali.

Husein (No. 2) bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, memperoleh anak hanya dua orang, ialah Yusuf dan Aisyah. Salasilah juga terputus.

Hasan (No. 3) bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, memperoleh anak hanya seorang, ialah Zainab. Salasilah juga terputus.

Muhammad (No. 4) bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, memperoleh dua anak orang, ialah Wan Abdul Qadir dan Wan Semik. Salasilah juga terputus.

Musa (No. 5) bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, salasilah juga terputus.

Isa (No. 6) bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, memperoleh lima anak iaitu; Aminah, Aisyah, Habibah, Salamah dan Haji Abdul Malik.

Aminah (No. 1) binti Isa bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, memperoleh lima anak iaitu; Muhammad, Imam, Usman, Aisyah dan Asiah.

Salasilah terputus dan nama suami Aminah tidak tercatat dalam salasilah.

Aisyah (No. 2) binti Isa bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik juga memperoleh lima anak iaitu; Syarifah, Haji Ahmad, Shafiyah, Sa’diyah dan Abdur Rahman.

Salasilah juga terputus dan nama suami Aisyah juga tidak tercatat dalam salasilah.

Habibah (No. 3) binti Isa bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik dan Salamah (No. 4) binti Isa bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik, keturunannya tidak tercatat dalam salasilah. Yang ramai anak dan ramai keturunan yang tercatat dalam salasilah ialah Haji Abdul Malik (No. 5) bin Isa bin Badruddin bin Syeikh Abdul Malik. Sebelum menyebut keturunan beliau, perlu dicatatkan di sini bahawa Haji Abdul Malik bin lsa bin Syeikh Abdul Malik Terengganu ini adalah salah seorang murid Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Jadi Haji Abdul Malik bin Isa cucu Tok Ku Pulau Manis Terengganu tersebut adalah termasuk ulama besar Terengganu pada zamannya. Haji Abdul Malik (No. 5) memperoleh enam anak; Haji Muhammad al-Qadhi, Encik Ahmad, Haji Abdur Rahim, Abdur Rahman, Abdullah dan Maryam.

Haji Muhammad al-Qadhi (No. 1) memperoleh empat anak iaitu; Kaltsum, Abdullah, Abdul Malik dan Musa

Encik Ahmad (No. 2) bin Haji Abdul Malik bin lsa bin Syeikh Abdul Malik memperoleh anak hanya 2 orang, ialah: Muhammad dan Haji Abdullah.

Haji Abdur Rahim (No. 3) bin Haji Abdul Malik bin lsa bin Syeikh Abdul Malik memperoleh anak hanya 4 orang, ialah; Muhammad Encik Da, Ahmad Encik Hitam, Halimah Encik Wok dan Khadijah Encik Nik

Muhammad Encik Da (No. 1) bin Haji Abdur Rahim bin Haji Abdul Malik bin lsa bin Syeikh Abdul Malik memperoleh anak hanya seorang, ialah: Abdullah Encik Awang. Abdullah Encik Awang memperoleh anak 3 orang, ialah: Isa Encik Long, Khadijah Encik Wok dan Shafiyah Encik Nik. Salasilah terputus hingga sampai di sini.

Ahmad Encik Hitam (No. 2) bin Haji Abdur Rahim bin Haji Abdul Malik bin 'lsa bin Syeikh Abdul Malik tidak tercatat nama anak dan keturunannya, yang tercatat hanya "Kubur keduanya (maksudnya Muhammad Encik Da dan Ahmad Encik Hitam) di maqam Tuan Syeikh Abdul Qadir".

Selanjutnya Halimah Encik Wok (No. 3) bin Haji Abdur Rahim bin Haji Abdul Malik bin lsa bin Syeikh Abdul Malik juga tidak tercatat nama anak dan keturunannya, sedang adiknya Khadijah Encik Nik (No. 4) anak-anaknya ialah: Ismail Encik Su, Maimunah Encik Wok, Aisyah Encik Tih dan Satidah Encik Hitam.

Selain itu, penulis masih meragui bahawa ditarik garis ke bawah sesudah Khadijah Encik Nik juga disebut nama Tuan Syeikh Abdul Qadir (maksudnya Syeikh Abdul Qadir Bukit Bayas). Mengenai ini tidak jelas, kerana menurut sejarah yang terkenal, Syeikh Abdul Qadir Bukit Bayas, ulama besar yang sangat terkenal itu adalah anak Syeikh Abdur Rahim yang berasal dari Patani. Mungkin saja Haji Abdur Rahim, ayah Khadijah Encik Nik adalah betul datuk/nenek Syeikh Abdul Qadir al-Fathani Bukit Bayas itu dari pihak sebelah ibunya, dan secara kebetulan serupa nama dengan ayah beliau iaitu Syeikh Abdur Rahim yang berasal dari Patani itu. Ini dapat diketahui dengan jelas kerana Haji Abdur Rahim (ayah Khadijah) nama ayahnya ialah Haji Abdul Malik bin Isa bin Syeikh Abdul Malik Terengganu, sedang Syeikh Abdur Rahim al-Fathani (ayah Syeikh Abdul Qadir) nama ayahnya ialah Wan Deraman bin Wan Abu Bakar bin Wan Ismail bin Faqih Ali.




SUMBER DARI
http://kembarasalik.wordpress.com/2008/11/27/syeikh-abdul-malik-tok-pulau-manis/
http://muhibmahbub.blogspot.com/2008/04/tok-pulau-manis-alim-terengganu.html